09 Maret 2009

Selamat Jalan Uskup Edu

Oleh Frans Obon

KEMATIAN seorang uskup adalah sebuah kehilangan. Itulah yang dialami oleh umat Keuskupan Ruteng. Kematian Uskup Eduardus Sangsun SVD, Senin (13/10) adalah kehilangan besar bagi umat Katolik di di wilayah itu.

Uskup Edu ditahbiskan Uskup 25 Maret 1985. Itu berarti selama 23 tahun, dia membaktikan dirinya bagi pengembangan Gereja lokal Keuskupan Ruteng. Dia merencanakan reksa pastoral bersama umatnya. Sebagai seorang gembala, ia jatuh bangun bersama umatnya. Dia berjalan dari stasi ke stasi, dari komunitas ke komunitas, dan dari paroki ke paroki.


Dia mendengar dengan setia Firman Allah, merenungkannya dan membaginya kepada umat kawanannya. Dia membimbing umatnya pada masa-masa sulit baik oleh gejolak sosial-ekonomi dan budaya maupun gejolak politik.

Secara teratur dia menggelar sinode keuskupan di mana umat Katolik bersama hirarki Gereja membahas bersama-sama reksa pastoral yang memberikan kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah bagi umat.

Tantangan Gereja lokal, yang kadang-kadang serani sai kontas bokak, bukanlah perkara mudah. Namun oleh tanggung jawabnya sebagai gembala Uskup harus sabar menuntun umatnya menuju padang rumput hijau.

Seperti dikatakan oleh mantan Gubernur NTT Ben Mboi dalam sinode keuskupan beberapa waktu lalu, Uskup Edu membawa kawanannya dengan filosofi Manggarai sendiri yakni tinu, titong, toing, dan teing.

Tinu dalam bahasa Manggarai adalah memelihara. Tugas pemimpin Gereja adalah memelihara perbendaharaan iman (depositum fidei). Titong adalah tugas kegembalaan agar menuntun domba-domba ke padang hijau. Agar dengan gala dan tongkat kegembalaan, domba yang lari keluar dituntun kembali ke jalan yang benar. Teing adalah memberi. Gereja sebagai penyalur rahmat harus terus menerus menyalurkan rahmat kepada umatnya. Toing adalah mengajar, memberi nasihat.

Di sisi lain, Uskup Edu dalam segala kesederhanaannya memandang penting kehadiran Gereja Katolik di Flores. Ketika Flores Pos, harian pertama di Flores berdiri tahun 1999, Uskup Edu adalah salah satu Uskup yang ikut memberi andil. Dia mendukung kehadiran media massa. Dia melihat posisi Flores ke depan. Dia ikut membangun dan memperkuat demokrasi di tingkat lokal. Dia ingin menegaskan kembali pentingnya keterlibatan dan kehadiran Gereja Katolik di bidang media massa.

Uskup tidak hanya membangun fondasi Keuskupan Ruteng tapi juga dalam konteks penciptaan masyarakat adab di Flores melalui media. Uskup Edu, selamat jalan.
Read more...

Perkuat Demokrasi Lokal

Oleh Frans Obon


PEMILIHAN bupati dan wakil bupati Ende tinggal beberapa minggu lagi ke depan. Tanggal 13 Oktober mendatang nanti, masyarakat Kabupaten Ende akan memilih pemimpin mereka. Para pemimpin yang bisa membawa perubahan bagi kehidupan mereka dalam segala segi.

Penetapan tujuh paket calon dari sembilan paket calon yang terdaftar di Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Ende diwarnai protes dari partai pendukung salah satu calon. Dampak lanjutan dari protes ini, pengundian nomor urut calon tertunda dan menurut rencana baru akan dilaksanakan 23 September.


Dalam proses demokrasi, protes merupakan bagian yang tidak terpisahkan. Karena hal ini menunjukkan adanya keberagaman persepsi dan kepentingan dari berbagai kelompok kepentingan di dalam peraturangan kepentingan tersebut. Keberagaman nilai, persepsi, dan kepentingan adalah rona-rona indah dari kehidupan masyarakat plural dan demokratis. Yang tidak dibenarkan adalah dalam memperjuangkan kepentingan kelompok kepentingan tersebut, aktor-aktor yang terlibat di dalamnya menggunakan cara-cara kekerasan.

Dalam masyarakat demokratis, setiap kelompok kepentingan dan aktor-aktor politik yang terlibat di dalamnya menjauhkan segala bentuk kekerasan politik untuk mencapai tujuan mereka. Karenanya dalam masyarakat demokratis, setiap perbedaan kepentingan dan konflik yang timbul dari perbedaan kepentingan tersebut diselesaikan melalui cara-cara demokratis juga.

Cara-cara demokratis itu prasyarat minimalnya adalah menegosiasikan dan mendialogkan kepentingan mereka dalam sebuah dialog yang jernih. Kalau mereka tidak mencapai kesepakatan, maka mereka menyelesaikannya melalui mekanisme hukum, yang juga menjadi bagian esensial dari kehidupan masyarakat demokratis. Tuntutan untuk menyelesaikan masalah melalui proses yang demokratis makin deras di tengah kehidupan yang terus berjalan ke arah globalisasi.

Searah dengan pikiran ini, Pilkada langsung yang pertama kalinya digelar di Ende adalah proses membangun demokrasi di tingkat lokal. Karena ini pertama kali digelar secara langsung, maka proses demokratisasi ini patutlah dianggap sebagai fondamen utama untuk proses demokratis ke depannya. Karenanya konflik Pilkada harus pula diselesaikan secara demokratis dan melalui lembaga-lembaga demokratis. Dengan ini kita mengajarkan kepada rakyat kita bahwa memilih pemimpin bukanlah menjadi sumber konflik, melainkan sirkulasi elite kekuasaan yang selalu diabdikan untuk kesejahteraan rakyat.

Read more...

08 Maret 2009

Semua Berawal dari Perencanaan

Oleh Frans Obon

KEMAJUAN pembangunan suatu daerah, salah satunya tergantung dari perencanaan. Mengutip Peter L Berger, perencanaan pembangunan itu baik atau buruk bisa terlihat dari dampak yang ditimbulkannya. Rancangan bangun pembangunan yang rasional, objektif, dan tepat sasar akan terlihat dari efektivitas dan efisiensi program dalam pelaksanaannya. Banyak program tidak berjalan dengan baik lantaran perencanaannya tidak tepat.

Itulah alasan mendasar sebenarnya mengapa Harian ini mengundang Kepala Bappeda Manggarai Barat Rafael Arhat untuk mendiskusikan soal perencanaan pembangunan. Bappeda adalah simpul terpenting dari perencanaan pembangunan di daerah. Manggarai Barat dipilih dalam diskusi ini hanyalah salah satu contoh locus perencanaan. Peserta diskusipun sebagian besar yang diundang adalah akademisi di perguruan tinggi, aktivis Lembaga Swadaya Masyarakt dan praktisi pembangunan.


Dari paparan Rafael Arhat, kita mendapatkan penegasan kembali bahwa perencanaan pembangunan yang punya efektivitas dan efisiensi yang maksimal memprasaratkan adanya perencanaan yang sistemik, bukan parsial. Dalam perencanaan sistemik seperti ini, peran kepemimpinan pada segala level menentukan. Kepemimpinan di satuan kerja perangkat daerah, misalnya akan menentukan implementasi riil dari visi, misi, dan program bupati dan wakil bupati.

Hal terpenting lain dari diskusi ini adalah perencanaan pembangunan yang holisitik tidak saja dalam pendekatannya, tetapi juga komitmen bersama dalam sebuah kawasan. Flores dan Lembata sebagai sebuah kawasan akan menjadi lebih kuat jika pemerintah-pemerintah daerah bersatu. Analogi sapu lidi digunakan untuk menggambarkan bahwa hanya dalam satu kesatuan komitmen bersama, daya tawar pemerintah daerah di Flores dan Lembata akan menjadi lebih kuat dalam konteks persaingan antardaerah di tingkat nasional. Flores dan Lembata yang berada di periferi Republik ini akan makin melemah jika pendekatan pembangunannya tidak dibangun secara holistik. Flores dan Lembata sebagai sebuah kawasan ekonomi akan tetap terbelakang jika dibangun secara parsial. Ini sama halnya kita akan terus mengekalkan sekat-sekat primordialisme di kawasan ini.

Karenanya diskusi ini, kalau boleh dipandang sebagai rekomendasinya, adalah perlunya sebuah ajang di mana Bappeda-Bappeda di seluruh Flores dan Lembata bertemu untuk membahas lebih serius tentang membangun Flores dan Lembata sebagai sebuah kawasan ekonomi. Perencanaan yang terpadu ini tentu saja membutuhkan komitmen politik dari pemerintah daerah. Diskusi ini adalah awal untuk memikirkan lebih serius membangun Flores dan Lembata sebagai sebuah kawasan. Dan Flores Pos memandang penting diskusi ini karena semuanya berawal dari perencanaan.

Read more...

Bangun Peradaban dari Sekolah

Oleh Frans Obon

KETIKA bicara di depan para pelajar di SMA Katolik Syuradikara, salah satu sekolah menengah tertua di Flores dan lembaga pendidikan asuhan Suster-Suster Ursulin, Santa Ursula di Ende, Sri Sultan Hamengku Buwono X menekankan bahwa para guru tidak hanya bertugas mengajar melainkan juga mendidik budi pekerti. Para siswa tidak hanya belajar mengetahui tetapi pendidikan mesti membentuk karakter kepribadian mereka. Keseimbangan antara punya pengetahuan dan pendidikan nilai merupakan fondasi dasar bagi pembentukan peradaban dan karakter bangsa ke depan.


Peringatan Sri Sultan di lembaga pendidikan di Flores dapatlah dilihat sebagai sebuah anamnese, sebuah kenangan manis yang patut dihidupkan kembali dan terus menerus mengenai sejarah pendidikan di Flores.

Dalam sejarah pendidikan di Flores, dua aspek ini sangat ditekankan. Kita tahu dari sejarah bahwa sejak Gereja Katolik Flores secara besar-besaran membangun pendidikan dasar di seluruh Flores di bawah bimbingan Keuskupan Agung Ende pada tahun 1920-an, dua aspek ini sangat ditekankan. Ada usaha keras untuk menyeimbangkan antara pendidikan nilai dan transfer ilmu pengetahuan. Disiplin, kejujuran, kerja keras, tidak nyontek, dan nilai-nilai luhur lainnya sedemikian ditekankan dalam seluruh proses pendidikan. Para siswa dilatih dan dididik untuk tidak menyerah begitu saja dengan keadaan. Para siswa dari kampung-kampung memikul bekal mereka dan tinggal di asrama di bawah bimbingan dan pendampingan yang intens para pembina asrama. Dalam kurun 50 tahun, wajah Flores berubah.

Zaman mungkin telah berubah. Metode diganti. Namun hakikat dasar dari pendidikan yakni membangun peradaban tidak akan pernah berubah sepanjang zaman. Lembaga pendidikan masih dianggap sebagai dapur bagi proses kebudayaan dan demokratisasi. Pendidikan tentu saja ingin membina kecerdasan anak didik. Daya kritis ini dibangun sedemikian rupa sehingga hasil dari lembaga pendidikan sungguh bisa mempertanggungjawabkan tindakan mereka secara rasional. Namun di samping itu, lembaga pendidikan juga harus pula menjadi tempat di mana anak didik peka terhadap lingkungan sekitarnya. Kepekaan sosial itu mesti dibangun agar anak didik kita mampu membangun lingkungan sosial yang lebih beradab.

Dalam konteks kehidupan modern dan globalisasi, amatlah penting bagi anak didik kita diajarkan nilai-nilai multikulturalisme. Mereka mesti dididik untuk menghargai keberagaman etnik, budaya, cara pandang, ideologi, agama, dan lain sebagainya. Multikulturalisme adalah sebuah tuntutan baru bagi lembaga pendidikan kita agar tercipta sebuah koeksistensi dan proeksistensi secara damai. Dengan demikian tercipta sebuah peradaban dan keadaban baru yang lebih manusiawi.

Read more...

Menghargai Perbedaan Kultur

Oleh Frans Obon

SRI SULTAN Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas mengunjungi masyarakat Kabupaten Ende. Dalam dua hari kunjungannya, Selasa dan Rabu (25-26/11), Sultan dan Ratu Hemas bertemu dengan berbagai kalangan baik masyarakat umum maupun dengan para pelajar dan mahasiswa di Kota Ende – sebuah kota yang dalam sejarah Flores merupakan pusat pendidikan yang dirintis Gereja Katolik dan pusat pemerintahan Daerah Flores.

Sultan sempat mengunjungi situs Bung Karno, rumah di mana Soekarno dan keluarganya tinggal selama pengasingannya di Flores 1934-1938. Beberapa ratus meter dari rumah itu terdapat biara Santo Yoseph, tempat tinggal para misionaris dari Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini/SVD), sebuah kongregasi Katolik yang cukup berpengaruh pada masa itu. Soekarno mementaskan drama-dramanya selama di Ende di gedung milik Serikat Sabda Allah dan dia sering berdiskusi dengan para pastor dari kongregasi ini. Menurut pengakuan Presiden Soekarno saat berkunjung ke Ende ketika dia telah menjadi presiden RI, dia menemukan ide mengenai dasar negara Pancasila di bawah sebuah pohon sukun.


Sultan bicara mengenai penghargaan terhadap keberagaman kultur dan etnik. Perbedaan bukan merupakan satu kelemahan, melainkan kekuatan bangsa untuk bersatu. Tidak boleh ada etnik yang karena jumlahnya lebih banyak mendominasi etnik lain. Karena begitu ada dominasi, konflik akan terjadi. Demikian pula dalam hal agama. Tidak ada agama yang mendominasi. Perbedaan harus dihargai dan mayoritas mengayomi minoritas.

Spanduk-spanduk yang dibentangkan di pinggir jalan-jalan di Kota Ende juga menggambarkan harapan warga agar Sultan bersama dengan rakyat Flores membangun kesadaran bersama untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan nasional, menghargai pluralisme, dan memihak rakyat kecil. Antusiasme menyambut Sultan di Kota Ende tentu saja dalam konteks dukungan dan komitmen rakyat Flores bahwa kebhinekaan budaya bangsa haruslah tetap dipertahankan sebagai roh yang memberi kekuatan kepada bangsa ini.

Di dalam sejarah kemerdekaan Indonesia modern, Flores boleh berbangga dan berbesar hati bahwa Soekarno menemukan konsep Pancasila di Flores. Ini ilham dari Nusa Bunga (Flores) untuk Nusantara (Indonesia). Rakyat Flores tentu saja tetap berjuang memberikan kontribusi bagi penghargaan terhadap kemajemukan bangsa bukan karena rakyat Flores mengidap sindrom minoritas di Indonesia. Tetapi rakyat Flores sadar bahwa kebhinekaan adalah keniscayaan bagi keberadaan Indonesia modern untuk bisa bersaing dengan bangsa lain.

Kedatangan Sultan ke Ende dengan mengusung komitmen kebhinekaan memperteguhkan kembali keyakinan rakyat Flores bahwa Indonesia harus bisa tetap mempertahankan kebhinekaannya dengan rasa saling menghargai sebagai sesama anak bangsa.
Read more...

Lindungi Kesehatan Masyarakat

Laboratorium kesehatan lingkungan (Labkesling) Dinas Kesehatan Ende sedang memeriksa 72 potong daging ayam milik rumah makan Selero Minang. Dari 72 sampel tersebut, enam potong daging ayam itu di dalamnya ditemukan ulat. Daging yang telah dibumbui ditaruh di dalam mesin pendingin (frisher). Kemudian akan dijual kepada konsumen.


Kasus ini kembali membuka mata kita bahwa makanan yang kita makan sama sekali jauh dari standar keamanan dari segi kesehatan. Beberapa waktu lalu, pemerintah Kabupaten Ende dalam hal ini Dinas Kesehatan melakukan pemeriksaan di warung-warung makan dan menempelkan standar layak konsumsi di dinding beberapa rumah makan. Konsumen tentu saja menyambut gembira langkah pemerintah yang memeriksa standar keamanan makanan dan minuman di setiap warung. Dan memberi kita pengumuman bahwa makanan dan minuman yang disediakan warung tersebut layak untuk dikonsumsi.

Namun rentang waktu yang begitu lama tampaknya melonggarkan kembali tindakan antisipatif pemerintah untuk mencegah penjualan makanan dan minuman yang jauh dari standar keamanan bagi masyarakat. Pemerintah tidak secara rutin melakukan pengawasan. Pemerintah seakan menunggu ada laporan dari masyarakat baru bertindak. Mestinya petugas selalu ingat bahwa para pedagang makanan dan minuman di mana dan kapapun akan selalu mengikuti logika untung rugi. Dia akan berusaha meraih untung meski dengan cara manipulatif seperti tampak dalam kasus tersebut.

Kita memang akui bahwa kendala terbesar bagi kita adalah terbatasnya tenaga kesehatan yang bertugas di laboratorium kesehatan lingkungan dan petugas lapangan yang memeriksa secara rutin sampel makanan dan minuman di tiap rumah makan. Meski tenaga kesehatan kita terbatas, melindungi masyarakat dari bahaya makanan dan minuman yang tidak layak, adalah kewajiban pemerintah.

Konsekuensinya pemerintah mesti mengubah paradigma pelayanan kesehatannya untuk memberikan perhatian pada tindakan pencegahan dengan meningkatkan peran laboratorium kesehatan lingkungan, menambah kapasitas alat-alatnya, melatih dan mendidik tenaga-tenaganya agar profesional, dan menyediakan sumber daya dukung lainnya.

Selain pembenahan internal pemerintah, perlu kiranya menambah besar lagi komitmennya untuk melakukan kontrol terhadap rumah makan dan minuman untuk mencegah berbagai manipulasi yang merugikan kesehatan masyarakat. Oleh kewenangannya, pemerintah perlu menertibkan dan menindak dengan tegas semua pelaku yang merugikan kesehatan masyarakat.

Tindakan tegas itu akan melahirkan komitmen dan tanggung jawab sosial di dalam diri pedagang makanan dan minuman untuk memenuhi standar kesehatan bagi makanan dan minuman yang mereka jual. Dengan itu kita akan sama-sama berusaha melindungi kesehatan masyarakat.
Read more...

Selamat Uskup San

Oleh Frans Obon

UMAT Katolik Keuskupan Denpasar boleh bergembira. Karena dalam waktu tidak terlalu lama, mereka mendapatkan uskup baru menggantikan almarhum Uskup Benyamin Yosef Bria, yang meninggal setahun lalu. Tahta Suci Paus Benediktus XVI, Sabtu (22/3) mengangkat Romo Silvester San Pr, Praeses Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere jadi Uskup Denpasar. Pengumuman pencalonannya di istana Keuskupan Maumere yang disiarkan melalui Radio Keuskupan Rogate disambut gembira umat Katolik. Pengangkatannya diumumkan juga di keuskupan-keuskupan di Flores.


Romo San meraih doktor dalam bidang Teologi Biblis dari Universitas Urbanianum Roma, Italia (1995-1997). Dia ditahbiskan imam, 29 Juli 1988 di Maumere. Romo San lahir di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, 14 Agustus 1961. Uskup San meminta dukungan doa dari umat Katolik di Flores untuk tugas kegembalaannya di Keuskupan Denpasar nanti.

Umat Katolik menyambut gembira pengangkatan seorang uskup bukan karena jabatan uskup itu sebuah prestise, melainkan karena tugasnya membimbing, menuntun umat Katolik menuju Guru Agung Yesus Kristus cukup sentral. Karena Uskup dengan tongkat kegembalaannya menuntun kawanannya di tengah arus zaman globalisasi yang begitu deras sekarang ini.

Tugas uskup menjadi tidak ringan di tengah dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan duniawi, di tengah situasi sekularisme dan kapitalisme yang menggurita, di tengah transisi politik Indonesia menuju demokrasi. Seorang uskup harus dengan tekun merenungkan Sabda Tuhan, memelihara perbendaharaan iman (depositum fidei) dan menyiarkannya kepada orang-orang zaman ini.

Seorang uskup yang dengan tekun berdoa dan mendengar bisikan Roh Kudus mewartakan iman dan moral kepada dunia zaman ini dan ajaran iman dan moralnya didengarkan sehingga menimbulkan ketaatan iman dan moral pula. Ketaatan iman dan moral itu tentu perkara ke dalam kehidupan Gereja Katolik sendiri. Tentu lebih berat lagi adalah bagaimana ajaran iman dan moral Gereja Katolik bergema di tengah kehidupan masyarakat yang makin plural, sehingga menarik orang-orang zaman ini.

Dalam hal tertentu, pengangkatan ini adalah kebanggaan iman umat Katolik Flores. Kebanggaan keluarga-keluarga Katolik di Flores. Kebanggaan seminari-seminari di Flores. Flores kembali memberikan sumbangannya pada kepentingan Gereja Lokal di Indonesia. Bahkan kepada kepentingan Gereja universal.

Kebanggaan ini tentu sekaligus menuntut tanggung jawab yang lebih besar agar keluarga-keluarga Katolik di Flores sungguh menjadi tempat persemaian iman Katolik yang benar di bawah bimbingan para uskup. Seminari-seminari menjadi tempat persemaian yang subur. Tempat para calon ditempah untuk mampu menjawab tuntutan zaman ini. Kita bangga, tapi serentak memberi kita tanggung jawab.

Selamat kepada Uskup San.

Read more...