Tampilkan postingan dengan label uskup katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uskup katolik. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2009

Kepedulian Ekologis

Oleh Frans Obon

TANGGAL 11 Maret 2007, pada sebuah misa requiem bagi para korban meninggal bencana alam di Gapong, Perak, dan Gologega pada awal Maret 2007, almarhum Uskup Ruteng Mgr Eduardus Sangsun SVD mengajak umat Katolik untuk menyadari dosa kolektif agar “tidak lagi menebang hutan tetapi menanam sebanyak mungkin pohon di tanah-tanah yang kering sebagai bentuk konservasi alam sehingga tidak terjadi lagi longsoran yang memakan korban jiwa”.


Uskup prihatin dengan jatuhnya korban jiwa dan mengungsinya ribuan orang mencari perlindungan di Paroki Pagal, di Paroki Beamese, Paroki Reo dan Paroki Benteng Jawa. Mulai hari ini, begitu kata Uskup, umat Katolik harus menanam sebanyak mungkin pohon dan “melindungi mata air”.

Uskup kala itu mengatakan, hendaknya kejadian bencana tanah longsor ini membuka mata dan membuat sadar semua orang mengenai konsekuensi hari ini dan ke depan dari tindakan merusak hutan. Kala itu juga Uskup meminta paroki-paroki dan pemerintah memberi perhatian serius pada korban karena banyak orang kehilangan tempat tinggal, harta benda, ladang, dan ternak.

“Banyak orang berada dalam ketakutan sekarang. Mungkin pula mereka akan kehilangan masa depan. Ini tugas kita untuk membantu mereka”.

Lingkungan hidup adalah salah satu keprihatinan pastoral Gereja Katolik Manggarai. Selama 23 tahun masa kegembalaannya, Uskup Edu tidak henti-hentinya memberi perhatian pada masalah ini dan selalu mengajak umatnya menyelamatkan lingkungan hidup.

Ajakan ini adalah sebuah seruan moral mengenai pentingnya memelihara kehidupan (pro life) terutama generasi masa depan. Uskup ingin mengajak umat Katolik untuk membangun sikap solidaritas, ikut prihatin dengan para korban. Keprihatinan itu ditunjukkan oleh sikap menentang segala bentuk perusakan lingkungan hidup.

Setiap anggota Gereja tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, melainkan sehati dan sepikir bersama anggota yang lainnya membahas bersama mengenai langkah-langkah konkret mencegah kerusakan lingkungan hidup.

Inilah salah satu warisan yang ditinggalkan oleh Uskup Edu, sekaligus keprihatinan yang terus menerus disuarakan oleh para uskup: kepedulian ekologis.

Seharusnya ajakan moral para pemimpin Gereja Katolik ini, terutama di wilayah kita, sungguh menjadi perhatian serius pemerintahan lokal kita. Adalah oleh kewajiban moral dan iman mereka sebagai orang Katolik, sudah sepantasnya para pemimpin pemerintahan lokal berada di garda terdepan untuk memelihara lingkungan hidup. Untuk coba mencari langkah konkret mewujudnyatakan seruan moral ini dan membangun komitmen memelihara lingkungan hidup.
Read more...

Selamat Jalan Uskup Edu

Oleh Frans Obon

KEMATIAN seorang uskup adalah sebuah kehilangan. Itulah yang dialami oleh umat Keuskupan Ruteng. Kematian Uskup Eduardus Sangsun SVD, Senin (13/10) adalah kehilangan besar bagi umat Katolik di di wilayah itu.

Uskup Edu ditahbiskan Uskup 25 Maret 1985. Itu berarti selama 23 tahun, dia membaktikan dirinya bagi pengembangan Gereja lokal Keuskupan Ruteng. Dia merencanakan reksa pastoral bersama umatnya. Sebagai seorang gembala, ia jatuh bangun bersama umatnya. Dia berjalan dari stasi ke stasi, dari komunitas ke komunitas, dan dari paroki ke paroki.


Dia mendengar dengan setia Firman Allah, merenungkannya dan membaginya kepada umat kawanannya. Dia membimbing umatnya pada masa-masa sulit baik oleh gejolak sosial-ekonomi dan budaya maupun gejolak politik.

Secara teratur dia menggelar sinode keuskupan di mana umat Katolik bersama hirarki Gereja membahas bersama-sama reksa pastoral yang memberikan kesejahteraan jasmaniah dan rohaniah bagi umat.

Tantangan Gereja lokal, yang kadang-kadang serani sai kontas bokak, bukanlah perkara mudah. Namun oleh tanggung jawabnya sebagai gembala Uskup harus sabar menuntun umatnya menuju padang rumput hijau.

Seperti dikatakan oleh mantan Gubernur NTT Ben Mboi dalam sinode keuskupan beberapa waktu lalu, Uskup Edu membawa kawanannya dengan filosofi Manggarai sendiri yakni tinu, titong, toing, dan teing.

Tinu dalam bahasa Manggarai adalah memelihara. Tugas pemimpin Gereja adalah memelihara perbendaharaan iman (depositum fidei). Titong adalah tugas kegembalaan agar menuntun domba-domba ke padang hijau. Agar dengan gala dan tongkat kegembalaan, domba yang lari keluar dituntun kembali ke jalan yang benar. Teing adalah memberi. Gereja sebagai penyalur rahmat harus terus menerus menyalurkan rahmat kepada umatnya. Toing adalah mengajar, memberi nasihat.

Di sisi lain, Uskup Edu dalam segala kesederhanaannya memandang penting kehadiran Gereja Katolik di Flores. Ketika Flores Pos, harian pertama di Flores berdiri tahun 1999, Uskup Edu adalah salah satu Uskup yang ikut memberi andil. Dia mendukung kehadiran media massa. Dia melihat posisi Flores ke depan. Dia ikut membangun dan memperkuat demokrasi di tingkat lokal. Dia ingin menegaskan kembali pentingnya keterlibatan dan kehadiran Gereja Katolik di bidang media massa.

Uskup tidak hanya membangun fondasi Keuskupan Ruteng tapi juga dalam konteks penciptaan masyarakat adab di Flores melalui media. Uskup Edu, selamat jalan.
Read more...

08 Maret 2009

Selamat Uskup San

Oleh Frans Obon

UMAT Katolik Keuskupan Denpasar boleh bergembira. Karena dalam waktu tidak terlalu lama, mereka mendapatkan uskup baru menggantikan almarhum Uskup Benyamin Yosef Bria, yang meninggal setahun lalu. Tahta Suci Paus Benediktus XVI, Sabtu (22/3) mengangkat Romo Silvester San Pr, Praeses Seminari Tinggi Ritapiret, Maumere jadi Uskup Denpasar. Pengumuman pencalonannya di istana Keuskupan Maumere yang disiarkan melalui Radio Keuskupan Rogate disambut gembira umat Katolik. Pengangkatannya diumumkan juga di keuskupan-keuskupan di Flores.


Romo San meraih doktor dalam bidang Teologi Biblis dari Universitas Urbanianum Roma, Italia (1995-1997). Dia ditahbiskan imam, 29 Juli 1988 di Maumere. Romo San lahir di Mauponggo, Kabupaten Nagekeo, 14 Agustus 1961. Uskup San meminta dukungan doa dari umat Katolik di Flores untuk tugas kegembalaannya di Keuskupan Denpasar nanti.

Umat Katolik menyambut gembira pengangkatan seorang uskup bukan karena jabatan uskup itu sebuah prestise, melainkan karena tugasnya membimbing, menuntun umat Katolik menuju Guru Agung Yesus Kristus cukup sentral. Karena Uskup dengan tongkat kegembalaannya menuntun kawanannya di tengah arus zaman globalisasi yang begitu deras sekarang ini.

Tugas uskup menjadi tidak ringan di tengah dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan duniawi, di tengah situasi sekularisme dan kapitalisme yang menggurita, di tengah transisi politik Indonesia menuju demokrasi. Seorang uskup harus dengan tekun merenungkan Sabda Tuhan, memelihara perbendaharaan iman (depositum fidei) dan menyiarkannya kepada orang-orang zaman ini.

Seorang uskup yang dengan tekun berdoa dan mendengar bisikan Roh Kudus mewartakan iman dan moral kepada dunia zaman ini dan ajaran iman dan moralnya didengarkan sehingga menimbulkan ketaatan iman dan moral pula. Ketaatan iman dan moral itu tentu perkara ke dalam kehidupan Gereja Katolik sendiri. Tentu lebih berat lagi adalah bagaimana ajaran iman dan moral Gereja Katolik bergema di tengah kehidupan masyarakat yang makin plural, sehingga menarik orang-orang zaman ini.

Dalam hal tertentu, pengangkatan ini adalah kebanggaan iman umat Katolik Flores. Kebanggaan keluarga-keluarga Katolik di Flores. Kebanggaan seminari-seminari di Flores. Flores kembali memberikan sumbangannya pada kepentingan Gereja Lokal di Indonesia. Bahkan kepada kepentingan Gereja universal.

Kebanggaan ini tentu sekaligus menuntut tanggung jawab yang lebih besar agar keluarga-keluarga Katolik di Flores sungguh menjadi tempat persemaian iman Katolik yang benar di bawah bimbingan para uskup. Seminari-seminari menjadi tempat persemaian yang subur. Tempat para calon ditempah untuk mampu menjawab tuntutan zaman ini. Kita bangga, tapi serentak memberi kita tanggung jawab.

Selamat kepada Uskup San.

Read more...