Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lingkungan. Tampilkan semua postingan

09 Maret 2009

Katakan Cukup untuk Bencana

Oleh Frans Obon

KOMISI Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Ordo Fratrum Minorum (OFM) bersama kelompok Manggarai di rantauan Jakarta, menggelar diskusi bersama mengenai tambang besar terbuka di Manggarai. Kelompok Tenang Tanage (Mengenang Tanah Air) ini menyerukan agar segera menghentikan tambang besar terbuka di Manggarai karena tidak saja menganggu ekosistem, tetapi juga sebagai bentuk perampasan terhadap hak-hak rakyat setempat.


Diskusi ini merupakan bentuk kepedulian terhadap tanah Manggarai dan dilihat sebagai proses peradaban besar di masa depan, yakni proses penyadaran massal dan komprehensif di setiap komunitas basis di Manggarai. Proses pencerahan di komunitas basis akan membangunkan kesadaran masyarakat setempat mengenai bencana ekologis di masa depan.

Masalah tambang karenanya bukan saja perkara ekologis, melainkan perkara iman dan tuntutan moral. Secara teologis, kita memuji Tuhan di atas tanah tempat kita berpijak. Kepedulian masyarakat akan tambang itu didasarkan pada keprihatinan iman kristiani. Karenanya masalah tambang adalah juga perkara kemanusiaan. Demi mengejar mitor kesejahteraan rakyat, pemerintah bersekutu dengan investor untuk membuka usaha tambang besar terbuka di Manggarai. Dalam proses penciptaan kesejahteraan ini, rakyat diabaikan. Rakyat tidak jadi subjek melainkan objek. Begitulah diskusi kelompok Tenang Tanage itu.

Yang paling menarik dari sini adalah munculnya kepedulian warga Manggarai rantauan terhadap masalah ekologi di Manggarai. Ada satu keprihatinan bersama bahwa katakan cukup terhadap bencana ekologis yang terjadi di Manggarai.

Memang kita akui bahwa pada masalah tambang, warga rantauan berhadapan dengan pemerintah dan pemodal. Maka mudah mereka mengambil posisi berhadapan dengan pemerintah dan pemodal. Tetapi ketika bencana ekologis yang ditumbulkan oleh makin merusaknya hutan lindung di Manggarai, warga rantauan bersikap mendua. Karena mereka berhadapan dengan rakyat, berhadapan langsung dengan ayah dan ibu mereka, saudara dan saudari mereka. Maka amat sulit kelihatannya ketika berhadapan dengan masalah hutan, di mana penduduk setempat tidak mau peduli dengan masalah hutan. Mengubah hutan lindung yang ditetapkan pemerintah menjadi kebun. Mereka berada dalam posisi dilematis.

Yang ingin kita tegaskan di sini adalah hendaknya lawa Manggarai melakukan proses penyadaran di setiap komunitas basis untuk mengatakan tidak terhadap semua tindakan yang menimbulkan bencana ekologi. Ya hutan, ya tambang. Dengan mengaca pada bencana bebera waktu lalu, orang Manggarai hendaknya sama-sama satu kata: cukup untuk bencana. Cukup babat hutan. Tolak tambang.

Flores Pos | Bentara | Bencana
| 21 November 2008 |
Read more...

09 Februari 2009

Kepedulian Ekologis

Oleh Frans Obon

Tanggal 11 Maret 2007, pada sebuah misa requiem bagi para korban meninggal bencana alam di Gapong, Perak, dan Gologega pada awal Maret 2007, almarhum Uskup Ruteng Mgr Eduardus Sangsun SVD mengajak umat Katolik untuk menyadari dosa kolektif agar “tidak lagi menebang hutan tetapi menanam sebanyak mungkin pohon di tanah-tanah yang kering sebagai bentuk konservasi alam sehingga tidak terjadi lagi longsoran yang memakan korban jiwa”.
Uskup prihatin dengan jatuhnya korban jiwa dan mengungsinya ribuan orang mencari perlindungan di Paroki Pagal, di Paroki Beamese, Paroki Reo dan Paroki Benteng Jawa. Mulai hari ini, begitu kata Uskup, umat Katolik harus menanam sebanyak mungkin pohon dan “melindungi mata air”. Uskup kala itu mengatakan, hendaknya kejadian bencana tanah longsor ini membuka mata dan membuat sadar semua orang mengenai konsekuensi hari ini dan ke depan dari tindakan merusak hutan. Kala itu juga Uskup meminta paroki-paroki dan pemerintah memberi perhatian serius pada korban karena banyak orang kehilangan tempat tinggal, harta benda, ladang, dan ternak. “Banyak orang berada dalam ketakutan sekarang. Mungkin pula mereka akan kehilangan masa depan. Ini tugas kita untuk membantu mereka”.
Lingkungan hidup adalah salah satu keprihatinan pastoral Gereja Katolik Manggarai. Selama 23 tahun masa kegembalaannya, Uskup Edu tidak henti-hentinya memberi perhatian pada masalah ini dan selalu mengajak umatnya menyelamatkan lingkungan hidup.
Ajakan ini adalah sebuah seruan moral mengenai pentingnya memelihara kehidupan (pro life) terutama generasi masa depan. Uskup ingin mengajak umat Katolik untuk membangun sikap solidaritas, ikut prihatin dengan para korban. Keprihatinan itu ditunjukkan oleh sikap menentang segala bentuk perusakan lingkungan hidup.
Setiap anggota Gereja tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, melainkan sehati dan sepikir bersama anggota yang lainnya membahas bersama mengenai langkah-langkah konkret mencegah kerusakan lingkungan hidup.
Inilah salah satu warisan yang ditinggalkan oleh Uskup Edu, sekaligus keprihatinan yang terus menerus disuarakan oleh para uskup: kepedulian ekologis.
Seharusnya ajakan moral para pemimpin Gereja Katolik ini, terutama di wilayah kita, sungguh menjadi perhatian serius pemerintahan lokal kita. Adalah oleh kewajiban moral dan iman mereka sebagai orang Katolik, sudah sepantasnya para pemimpin pemerintahan lokal berada di garda terdepan untuk memelihara lingkungan hidup. Untuk coba mencari langkah konkret mewujudnyatakan seruan moral ini dan membangun komitmen memelihara lingkungan hidup.


Flores Pos | Bentara | Lingkungan Hidup
| 20 Oktober 2008 | Read more...